Tampilkan postingan dengan label Hama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2022

Penyemprotan Hama Tanaman Jagung Program Ketahanan Pangan Kodim 0713 Brebes

 Brebes - Lahan 2 Hektar di lahan milik TNI AD, Kodim 0713 Brebes tepatnya di Desa Songgom, Kecamatan Songgom yang dijadikan Program Ketahanan Pangan Tanaman Jagung hari ini dilakukan penyemprotan hama. Rabu (14/09/2022).

                                       


Tanaman Jagung yang sudah menginjak 40 hari dengan rata-rata pertumbuhan tinggi mencapai 40-50 centimeter ini ada berbagai varietas atau jenis diantaranya BISI 79, 321 dan 322.

Babinsa Songgom Koptu Kardiyono, Koramil 17 Songgom ikut mengawasi dan melaksanakan kegiatan penyemprotan Pestisida pembasmi hama dan penyakit pada tanaman jagung yang dikerjakan oleh para petani.

                                     

Hama dan Penyakit pada tanaman merupakan salah satu kendala yang sangat mengganggu dalam usaha pertanian, serangannya pada tanaman dapat datang secara mendadak dan bersifat meluas. Sehingga dalam waktu yang relatif singkat, pertumbuhan tanaman jagung dapat menimbulkan gagal panen.

Seusai melaksanakan penyemprotan hama pada tanaman jagung, Babinsa Songgom Koptu Kardiyono mengungkapkan bahwa kegiatan pendampingan terhadap petani merupakan upaya TNI membantu petani, dalam mewujudkan swasembada pangan mendukung program pemerintah.

                                         

Lanjut, Koptu Kardiyono mengaku bahwa dirinya ikut turun langsung kelahan, untuk membantu petani mengendalikan tanaman dari gangguan hama dan penyakit merupakan salah satu bentuk tanggung jawabnya.

Babinsa juga berharap, semoga dengan apa yang sudah kita lakukan hasil produksi akan maksimal dalam rangka menyukseskan Program Swasembada Pangan yang merupakan Program Pemerintah,” Ungkapnya. (Pendim0713).

Rabu, 24 Juli 2019

Sosialisasi Penanggulangan Hama Terpadu




Brebes – Sosialisasi dan praktek lapangan penanggulangan hama terpadu (PHT) oleh Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Hama Terpadu Pemalang.

Pertemuan yang dimulai dari pukul 08.00 hingga 11.30 wib tersebut bertempat di balai pertemuan kelompok tani Dukuh Bulak Ungu dan di areal persawahan Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Rabu, (24/07/2019).

Acara yang dihadiri oleh Dinas pertanian dan perkebunan provinsi jawa tengah, Balai perlindungan tanaman pangan hortikultura dan perkebunan Laboratorium hama terpadu pemalang, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Brebes, BPP Kecamatan Sirampog, Muspika, Babinsa dan Babinkamtibmas Desa Benda dan kelompok tani ini berlanjut dengan praktek dilapangan bagaimana cara penanggulangan bila ada hama tikus.

Danramil 10/Sirampog Kapten Inf Muhrodi dalam sambutannya menyampaikan bahwa TNI siap membantu masyarakat bila dibutuhkan petani di lapangan, setidaknya TNI bisa meringankan beban petani dalam upaya pencegahan hama tikus. Tuturnya. (Utsm)

Jumat, 01 Maret 2019

Pencegahan Tanaman Padi Larangan Brebes Terhadap Hama Blast


Brebes – Target peningkatan produksi padi untuk mencapai swasembada pangan saat ini bukan tanpa kendala, serangan hama dan penyakit siap mengancam gagal panen petani. Salah satunya serangan hama Blas di lahan persawahan Dukuh Kedungabad  Desa Wlahar, Kecamatan Larangan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.


Serangan hama penyakit ini baru diketahui setelah tanaman padi menjelang berbunga. Hal ini harus segera ditindak lanjuti untuk mencegah terjadinya gagal panen.

Sebelumnya, melalui pengamatan yang dilakukan oleh semua anggota kelompok tani kedung abad di lahan masing masing, selanjutnya mereka bersama pengamatan hama Kecamatan Larangan Raswin, PPL Desa Wlahar Asep Hatin Nuryadin, Babinsa Koramil 16/Larangan pengecekan tanaman padi yang terserang hama jenis Blass dan penyemprotan dengan menggunakan obat jenis Topsindo.

Sebelum penyemprotan dimulai, penjelasan sekilas penyakit blas, penyebab, cara pencegahannya, dan obat yang dapat digunakan untuk penanggulangannya, dijelaskan oleh Petugas Pengamat Hama Kecamatan Larangan mengatakan sebelum hama menyebar lebih luas kepada kelompok tani untuk segera penyemprotan agar hama tidak berkembang luas.

Setelah penyemprotan selesai dalam kegiatan ini Danramil 16/Larangan melalui Serka Sugiono mengungkapkan kepada petani supaya menindaklanjuti yang sudah disampaikan oleh petugas, Babinsa bersama petugas PPL para petani proaktif menanggulangi hama blass maupun hama tanaman lainnya, seperti tikus dan hama wereng sebagai antisipasi pengendalian hama yang sudah mulai menyerang tanaman padi.

Ia juga menghimbau dan mengajak para petani untuk menyemprot secara serentak guna mengendalikan serangan hama tersebut. Selain itu juga, sebaiknya penanaman padinya dengan sistem Jajar legowo (Jarwo). Karena dengan sistem tersebut akan menambah jumlah populasi tanaman padi sekitar 30% yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro, mempermudah pemeliharaan dan pengendalian hama penyakit tanaman melalui barisan kosong/lorong.

“Namun yang terpenting adalah selalu memantau perkembangan hama tersebut agar tidak menjadi banyak,” tambah Serka Sugiono. (Wdd).

Selasa, 05 Februari 2019

Brebes Masih Dipercaya Penyangga Beras Jateng

Brebes – Produksi padi Gabah Kering Giling (GKG) nasional periode Januari-September 2018 mencapai 49,57 juta ton dari 9,54 juta hektar luas lahan panen. 6 (enam) provinsi di Pulau Jawa (Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY) masih mendominasi produksi dengan capaian 28,08 juta ton atau 56% dari total produksi nasional.


Bahkan, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur berada di urutan teratas dengan produksi masing-masing 9,31, 8,75 dan 8,1 juta ton. Sedangkan provinsi di luar Jawa, penyumbang terbesar adalah Sulawesi Selatan dan Sumatera Selatan masing-masing 5,13 dan 2,49 juta ton. Data berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) dengan menggunakan metode Kerangka Sampel Area (KSA).

Untuk wilayah Jateng sendiri, Kabupaten Brebes termasuk dalam enam Kabupaten penyumbang beras terbesar. Kementan RI dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi mentargetkan LTT (Luas Tambah Tanam) Oktober 2018-Maret 2019 sebesar 73,5 hektar. Target ini masih di urutan ke tujuh dari Kabupaten Grobogan, disusul Blora, Cilacap, Pati, Sragen dan Demak, yang masing-masing 132,4 hektar, 106,4 hektar, 85,6 hektar, 84,5 hektar, 83,2 hektar dan 81 hektar (data dari Kodam IV Diponegoro tanggal 6 Februari 2019).

Menyikapi tugas capaian tersebut, TNI yang sudah MoU dengan Kementan RI, terus melakukan upaya guna mendorong para petani mempercepat tanam dan menambah luas tanam. Terlihat Serka Jamaludin, Babinsa Koramil 06 Kersana Kodim 0713 Brebes bersama Sriyani, Staf BP3K Dintan Kabupaten Brebes, melaksanakan pendampingan kepada 20 orang petani dari Kelompok Tani (Poktan) Mekarsari di areal persawahan seluas 15 hektar Desa Sindangjaya dengan penyemprotan hama padi blas. Rabu (6/2/2019).

Babinsa juga memotivasi petani agar kedepan lebih memaksimalkan penggunaan pupuk, pasalnya harga jual padi organik lebih tinggi dibanding padi biasa sehingga tentunya akan berimbas kepada kesejahteraan petani itu sendiri. Sebagai gambaran, harga padi biasa berkisar 9 ribu/kilogram sedang padi organik antara 14 ribu-15 ribu/kilogram.

Jamaludin menyatakan bahwa yang dilakukannya guna mensukseskan program swasembada dan ketahanan pangan pemerintah yaitu membantu mengendalikan inflasi sub sektor klaster padi. Sementara Ketua Poktan tersebut, H. Dartim mengaku merasa terhormat ada petugas dari Dinas Pertanian dan TNI mau terjun ke sawah. (Utsm-Aan0713).

Minggu, 03 Februari 2019

Sawah Desa Sindangjaya Brebes di Semprot Hama Blast


Brebes, Babinsa Koramil 06/Kersana, Serka Jamaludin bersama Sriyani Staf BP3K dan 20 petani Desa Sindangjaya melaksanakan pendampingan, menyemprot hama padi Blast seluas 15 Ha, Senin (4/2/2019).

Jamaludin mengatakan untuk mensukseskan program pemerintah swasembada pangan dengan membantu petani melaksanakan penyemprotan hama tanaman Padi supaya terhindar dari serangan hama penyakit dan hasil panen pun dapat memuaskan nantinya.
Masa tanam padi telah dilaksanakan beberapa waktu yang lalu pada Kelompok Tani Mekarsari yang diketuai H. Dartim.
“Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pemeliharaannya, mulai pengairan, pemupukan dan penyemprotan,” ujar Babinsa.
Penyemprotan berfungsi mengantisipasi penyakit Blast, hama ulat pengulung daun maupun wereng, selain itu juga untuk memberikan kesuburan terhadap batang padi serta menghilangkan rumput ilalang yang bakal tumbuh di sekitar padi.
Ditambahkan Jamal panggilan akrabnya, demi menyelamatkan tanaman padi milik petani dan antisipasi meluasnya serangan hama yang menyerang tanaman padi, Babinsa akan terus melaksanakan pendampingan kepada para petani. (Utsm0713).

Rabu, 30 Januari 2019

Hama Blast di Sempot Bersama di Banjarharjo

Brebes - Belajar dari pengalaman pahit tahun 2017/2018, petani di Kabupaten Brebes khususnya Desa Cikuya, Kecamatan Banjarharjo. (30/01/2019)

Gerdal Organisne Pengganggu Tumbuhan (OPT) dilahan sawah seluas 10 ha pada usia tanam padi 35-40 hari setelah tanam. "Gotong royong bersama BPP Banjarharjo, Kepala Desa, PPL, Babinsa berserta 35 orang petani melakukan penyemprotan fungisida di sawah," kata Kasturi, Ketua Kelompok Tani Subur  Desa Cikuya saat dimintai keterangan.
Disampaikan oleh Kasturi sebelum penyemprotan fungisida, bahwa seluruh petani mengeluh kepada BPP Banjarharjo untuk melakukan tindakan dengan hadirnya hama blast di desa ini, oleh karenanya Poktan Tani Subur sangat senang dan antusias dalam penyambutan dan gotong-royong pembasmian blast. Tutur Kasturi berkaca-kaca mata bahagianya.
Penyakit blast sejatinya sudah lama dikenal sebagai salah satu penyakit yang menyerang tanaman padi, penyakit blas diperkirakan muncul sejak tahun 5000 SM di Asia yang merupakan kawasan asal munculnya tanaman padi. Disampaikan oleh Casman Ketua PPL Desa Cikuya.
Dalam perjalanannya penyakit yang disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae ini menjadi ancaman serius bagi tanaman padi di banyak negara. Epidemi blas pernah terjadi di China tahun 1634, Jepang tahun 1704, Italia (1828), Amerika Serikat (1876) dan India (1913). “Blas punya potensi menjadi epidemi dalam skala luas atau pandemi.

Di Indonesia sendiri sebelum 2007 blas belum menjadi penyakit penting pada tanaman padi. Sebelum tahun itu, blas dikenal sebagai penyakit yang menyerang padi gogo. Namun antara tahun 2001-2017, serangan blas meningkat hingga 12 kali lipat dan menjadi ancaman serius. “Tahun 2018 sudah menjadi OPT (organisme pengganggu tanaman) utama padi,” terang Casman.
Terjadinya duplikasi lingkungan tanaman padi gogo pada padi sawah akibat teknik budidaya yang tak selaras alam menjadi penyebab blast menyerang padi sawah. pola pertanian dengan menggunakan pupuk kimia tak seimbang, herbisida, fungisida, dan pestisida telah membuat lingkungan sawah menjadi serupa dengan lingkungan padi gogo yaitu kadar kalium (K) tersedia lebih rendah, nitrogen (N) dalam bentuk NO3 karena air terbatas, penggunaan pupuk N berlebihan, dan Mikroba menguntungkan dalam tanah tidak berkembang baik karena bahan organik kurang.
Penyakit blast pada padi sawah dapat menyerang pada semua fase pertumbuhan, malahan pada benih padi pun sudah mulai terinfeksi penyakit blast. Dari data International Rice Research Institute (IRRI), pada tahun 1975 sudah ada 250 ras/varian genetis penyakit blas. Penyakit ini memang mampu untuk dengan cepat membentuk ras baru.
Saat kondisi lingkungan mendukung satu siklus penyakit blas hanya membutuhkan waktu 1 minggu dan sangat mudah menyebar lewat udara, siklus ini dimulai dari spora jamur yang menginfeksi tanaman kemudian menghasilkan bercak daun pada tanaman padi dan siklus ini berakhir sampai bersporulasi untuk menyebarkan spora yang baru lewat udara.
Satu bercak pada daun yang terinfeksi akan tumbuh dan menghasilkan spora jamur baru sampai ratusan hingga ribuan dalam satu malam. Mudahnya jamur Pyricularia oryzae melakukan mutasi menjadi penyebab blas sangat tahan terhadap penggunaan fungisida.

Diakhir kegiatan tersebut Ketua PPL dan Poktan yang hadir sangat berterima kasih karena kegiatan penyemprotan fungisida ini didampingi oleh TNI, Khususnya Babinsa Koramil 14/Banjarharjo yang dengan senang hati melakukan bersama-sama dilahan milik rakyat. (Utsm0713)