Tampilkan postingan dengan label Hantu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hantu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Desember 2019

Aksi Nyata Babinsa Bumiayu Brebes Gagas Rubuha Sebagi Predator Alami Musuh Petani


Brebes – Penanganan hama tikus dengan metode predator alami yaitu burung hantu, dikupas lengkap dalam Talk Show Aksi Babinsa Kodim 0713 Brebes. Rabu (27/11/2019).




Acara ini disiarkan secara live di Radio Singosari 103.9 FM Brebes dan News Singosari FM Ketanggungan, sedangkan tunda di Radio Top FM Bumiayu pada pukul 12.00 WIB setelahnya. Tampak Rara Elshanum atau Siti Khumairoh (31), memandu di Studio 2 Singosari 103.9 FM Brebes.

Narasumber yang dihadirkan adalah salah satu Babinsa inspiratif Kodim Brebes, penggagas Rubuha (Rumah Burung Hantu) di wilayah Kecamatan/Koramil 08 Bumiayu, Sertu Eko Nuhyoto. Dirinya juga telah mendapatkan penghargaan dari Danrem 071 Wijayakusuma, Kolonel Kavaleri Dani Wardhana (28/10), atas gagasannya mengatasi hama para petani padi di dua desa, Kalinusu dan Kaliwadas.

Dalam kesempatan ini, Babinsa mendapatkan 5 penelepon yang menanyakan seputaran tentang burung hantu dan cara kerja sebagai pemangsa tikus sawah.

Diterangkannya, di Desa Kaliwadas terdapat enam Rubuha yang dibangun dengan menggunakan tiang pipa paralon yang diisi cor-coran semen dengan biaya senilai Rp 750 ribu/rumah burung hantu dan kini telah terisi 5 ekor jenis tyto alba (serak Jawa) dan tyto almae (serak seram). Untuk anggarannya didanai dari BPP Kecamatan Bumiayu dan telah dibuat pada 2014 silam.

“Saat ini ada dua pasang burung hantu yang sedang bertelur dan satu pasang telah menetaskan anak,” ucapnya.

Di lahan seluas 5 hektar percontohan ini, kini tikus sawah menyusut sekitar 40 persen dan panen warga rata-rata meningkat sebanyak 1 ton jenis padi situbagendit.

Sedangkan di Desa Kalinusu, telah didirikan 9 Rubuha dengan media tiang bambu swadaya masyarakat, tersebar di lima titik lokasi milik Poktan Galuh Tani, Beji Tani dan Sri Unggul Tani.  Disini telah terisi sebanyak enam ekor.

Dijelaskannya juga, untuk ukuran box Rubuha adalah 40 x 60 x tinggi 40 centimeter, dengan lubang utama 25 centimeter. Burung hantu tidak bisa membuat sarang sendiri, sehingga harus dibuatkan sarang untuk memancingnya tinggal.

“Pastikan Rubuhan rapat dan hanya satu lubang masuk. Ini karena predator malam ini suka dengan gelap,” bebernya.

Dengan cara ini memang membutuhkan waktu namun hasilnya sangat efektif. Ini karena burung hantu sanggup memakan tikus yang merupakan makanan utamanya sebanyak 10-12 ekor sehari, dari kemampuannya melihat mangsanya sejauh 500 meter. Burung ini juga mampu mendeteksi suara dari gerakan gerombolan tikus sejauh 12 kilometer dengan daya jelajah mencapai radius 12 kilometer.

Waktu berburu setiap malam bahkan tidak mengenal hujan. Jika berbunyi saja, suaranya sudah membuat para tikus bubar. Satu ekor saja mampu mengawasi lahan seluas 5 hektar.

“Semoga apa yang disampaikan ini dapat bermanfaat bagi para petani yang dekat kawasan hutan (radius 3 kilometer). Jika melihat adanya aktivitas burung hantu, tidak ada salahnya membuatkan rumahnya untuk mengatasi tikus,” pungkasnya.

Tak lupa ia berpesan kepada para petani, agar juga menjaga kelestarian ular sawah yang juga sebagai predator tikus alami dalam rantai makanan. (Aan)

Sekedar diketahui, dialog interaktif ini ditayangkan setiap hari Rabu pagi mulai pukul 10.00-11.00 WIB. Dapat diakses melalui telepon (0283) 671636, link youtube di https://youtu.be/7heRkU14Llk, link radio streaming di http://singosarifmbrebes.radiostream123.com/ serta http://www.topfm951.net/. (Aan)

Selasa, 05 November 2019

Upaya Menekan Hama Tikus Di Bumiayu Brebes Dengan Rubuha, Berbuah Manis


Brebes – Upaya Babinsa Koramil 08 Bumiayu, Kodim 0713 Brebes, dalam melahirkan inovasi Rubuha (Rumah Burung Hantu) di desa binaannya, Desa Kaliwadas dan Kalinusu, telah mengantarkannya mendapatkan anugerah sebagai Babinsa inspiratif di jajaran Korem 071 Wijaya Kusuma.


Beberapa waktu yang lalu, Sertu Eko Nuhyoto, menerima anugerah tersebut dari
Danrem, Kolonel Kavaleri Dani Wardhana, di Lapangan Upacara Makorem, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 28/10).

Diterangkan Eko Nuhyoto, di Desa Kaliwadas terdapat 6 Rubuha yang dibangun dengan menggunakan tiang pipa paralon yang diisi cor-coran semen dengan estimasi biaya senilai Rp. 750 ribu/rumah burung hantu jenis strix seloputo, tyto alba (serak Jawa) dan tyto almae (serak seram). Di lahan percontohan Koramil seluas 5 hektar ini, telah terisi sebanyak 5 ekor burung.

“Kami bersama BPP, PPL Kecamatan Bumiayu, mengajak para Gapoktan dan Poktan untuk merealisasikan ide pembuatan Rubuha untuk mengatasi hama tikus sawah,” ucapnya melalui pesan whatsapp.

Tampak Eko Nuhyoto bersama Danramil, Kapten Infantri Ngadino dan Daryoto (54) Bendahara Gapoktan Kaliwadas, sedang memantau keberadaan burung hantu di Demplot Koramil atau areal persawahan milik Gapoktan Kaliwadas. Selasa (5/11/2019).

“Proyek yang didanai oleh BPP Bumiayu ini dibuat pada akhir tahun 2014. Kini hama tikus di lahan seluas 5 hektar menyusut sekitar 40 % dan panen warga rata-rata meningkat sebanyak 1 ton jenis padi situbagendit,” imbuhnya.

Diterangkannya juga, untuk di Desa Kalinusu, telah berdiri sebanyak 9 Rubuha yang tersebar di lima titik lokasi milik Poktan Galuh Tani, Beji Tani dan Sri Unggul Tani. Disini terisi sebanyak 6 ekor burung.

Ketua Poktan Galuh Tani merangkap Sekretaris Gapoktan Kalinusu, Mei Harto (52) mengatakan bahwa, pembuatan Rubuhan dengan menggunakan media batang bambu dan kayu ini, bersumberkan dari swadaya masyarakat.

Sementara dikatakan Ketua BPP Bumiayu, Bambang, bahwa upaya ini untuk menanggulangi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama tikus sawah (rattus argentiventer) yang menyerang lahan pertanian demi ketahanan pangan, menekan laju inflasi dari sisi suplai.

Sehingga tanaman padi warga setempat dapat terhindar dari organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa tikus sehingga hasil produksi dapat tetap terjaga.

“Pencegahan hama tikus dengan proses alami ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, namun hasilnya sangat efektif,” jelasnya.

Ditambahkannya, tidak semua lahan pertanian di desa tersebut rawan tikus, sehingga pemasangan Rubuha diprioritaskan di dekat tanggul sungai. Burung hantu tidak bisa membuat sarang sendiri, sehingga harus dibuatkan sarang.

Makanan dari burung hantu ini 99 % adalah tikus. Jenis tyto alba setiap malam mampu memakan 10-15 ekor tikus, dari kemampuannya melihat mangsanya sejauh 500 meter serta mendeteksi suara dari gerakan gerombolan tikus sejauh 12 kilometer. Waktu berburunya setiap malam tidak peduli musim penghujan atau kemarau.

“Jika berbunyi, suara burung hantu sudah cukup untuk menakuti tikus. Dua ekor saja mampu mengawasi lahan seluas 5–10 hektar dengan daya jelajah mencapai radius 12 kilometer,” pungkasnya.

Inilah upaya pengendalian tikus dengan mengaktifkan kembali rantai makanan. Selain burung hantu, ular sawah juga efektif mengatasi masalah petani serupa. (Aan)