Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Burung. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Desember 2019

Kostrad, Cucak Ijo Milik Anggota Kodim Brebes Juara Piala Tegal Bersatu


Tegal – Kostrad, nama burung cucak ijo kepunyaan Sertu Amrulloh, anggota Unit Intel Kodim 0713 Brebes, tanpa ragu-ragu mengumpulkan tiga dari empat bendera merah di kelas utama cucak ijo losgan, ajang Piala Tegal Bersatu di halaman Rita Supermall Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dengan nomor gantangan 04. Minggu sore (15/12/2019).




Dibenarkan perawat kostrad Asepudin atau Asep (45) warga Dusun/Desa Limbangan RT. 02 RW. 07, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, bahwa kostrad burung yang super unik dan memiliki fisik diatas rata-rata cucak ijo lainnya. Pasalnya, dalam satu minggu mampu turun di beberapa tempat tanpa mengenal istirahat.

“Untuk kelas Latber (Latihan Bersama) dan losgan, kostrad mampu turun setiap hari dalam satu minggu. Kostrad ini sudah terkenal dari Pantura, Cirebon dan bahkan Kuningan, Jawa Barat,” ucapnya.

Dijelaskannya juga, untuk event besar terakhir yaitu Latpres (Latihan Prestasi) dalam ajang yang memperebutkan Piala Bupati dan Kajari Brebes pada awal Desember ini (1/12), kostrad berhasil meraih juara kedua di kelas utama pendaftaran RP. 200 ribu dan juara pertama dikelas pendaftaran Rp. 70 ribu.

Sementara sang pemilik, Sertu Amrulloh (kacamata memegang bendera), menyatakan bahwa saat ini koleksi piala yang telah dikumpulkannya mencapai ratusan piala dari lima bulan dilombakan/di gantang tanpa batas. Kostrad didapatkannya pada awal Agustus 2019 lalu. Ia juga mengaku baru saja menolak mahar yang ditawarkan orang Kudus, Jateng senilai Rp. 62 juta.

“Sebelumnya saya juga pernah menolak mahar senilai Rp. 19 juta dan kemarin Rp. 62 juta dari kawan di Kudus,” beber Amrulloh.

Seingatnya, juara satu dan dua total lebih dari 250 kali, dari event Latber, lossgan maupun Latpres.

“Kalau hari biasa, Latber bisa mendapatkan 2 piagam, sementara kalau event besar sekelas Latpres bisa mendapatkan 4 piagam, turun di semua kelas di dua gantangan yang berbeda,” imbuhnya.

Untuk isiannya meliputi pelatuk beras, kapas tembak, gereja tarung, lovebird, kenari, cililin, jangkrik serta burung-burung kecil lainnya. (Aan)

Minggu, 01 Desember 2019

Aksi Nyata Babinsa Bumiayu Brebes Gagas Rubuha Sebagi Predator Alami Musuh Petani


Brebes – Penanganan hama tikus dengan metode predator alami yaitu burung hantu, dikupas lengkap dalam Talk Show Aksi Babinsa Kodim 0713 Brebes. Rabu (27/11/2019).




Acara ini disiarkan secara live di Radio Singosari 103.9 FM Brebes dan News Singosari FM Ketanggungan, sedangkan tunda di Radio Top FM Bumiayu pada pukul 12.00 WIB setelahnya. Tampak Rara Elshanum atau Siti Khumairoh (31), memandu di Studio 2 Singosari 103.9 FM Brebes.

Narasumber yang dihadirkan adalah salah satu Babinsa inspiratif Kodim Brebes, penggagas Rubuha (Rumah Burung Hantu) di wilayah Kecamatan/Koramil 08 Bumiayu, Sertu Eko Nuhyoto. Dirinya juga telah mendapatkan penghargaan dari Danrem 071 Wijayakusuma, Kolonel Kavaleri Dani Wardhana (28/10), atas gagasannya mengatasi hama para petani padi di dua desa, Kalinusu dan Kaliwadas.

Dalam kesempatan ini, Babinsa mendapatkan 5 penelepon yang menanyakan seputaran tentang burung hantu dan cara kerja sebagai pemangsa tikus sawah.

Diterangkannya, di Desa Kaliwadas terdapat enam Rubuha yang dibangun dengan menggunakan tiang pipa paralon yang diisi cor-coran semen dengan biaya senilai Rp 750 ribu/rumah burung hantu dan kini telah terisi 5 ekor jenis tyto alba (serak Jawa) dan tyto almae (serak seram). Untuk anggarannya didanai dari BPP Kecamatan Bumiayu dan telah dibuat pada 2014 silam.

“Saat ini ada dua pasang burung hantu yang sedang bertelur dan satu pasang telah menetaskan anak,” ucapnya.

Di lahan seluas 5 hektar percontohan ini, kini tikus sawah menyusut sekitar 40 persen dan panen warga rata-rata meningkat sebanyak 1 ton jenis padi situbagendit.

Sedangkan di Desa Kalinusu, telah didirikan 9 Rubuha dengan media tiang bambu swadaya masyarakat, tersebar di lima titik lokasi milik Poktan Galuh Tani, Beji Tani dan Sri Unggul Tani.  Disini telah terisi sebanyak enam ekor.

Dijelaskannya juga, untuk ukuran box Rubuha adalah 40 x 60 x tinggi 40 centimeter, dengan lubang utama 25 centimeter. Burung hantu tidak bisa membuat sarang sendiri, sehingga harus dibuatkan sarang untuk memancingnya tinggal.

“Pastikan Rubuhan rapat dan hanya satu lubang masuk. Ini karena predator malam ini suka dengan gelap,” bebernya.

Dengan cara ini memang membutuhkan waktu namun hasilnya sangat efektif. Ini karena burung hantu sanggup memakan tikus yang merupakan makanan utamanya sebanyak 10-12 ekor sehari, dari kemampuannya melihat mangsanya sejauh 500 meter. Burung ini juga mampu mendeteksi suara dari gerakan gerombolan tikus sejauh 12 kilometer dengan daya jelajah mencapai radius 12 kilometer.

Waktu berburu setiap malam bahkan tidak mengenal hujan. Jika berbunyi saja, suaranya sudah membuat para tikus bubar. Satu ekor saja mampu mengawasi lahan seluas 5 hektar.

“Semoga apa yang disampaikan ini dapat bermanfaat bagi para petani yang dekat kawasan hutan (radius 3 kilometer). Jika melihat adanya aktivitas burung hantu, tidak ada salahnya membuatkan rumahnya untuk mengatasi tikus,” pungkasnya.

Tak lupa ia berpesan kepada para petani, agar juga menjaga kelestarian ular sawah yang juga sebagai predator tikus alami dalam rantai makanan. (Aan)

Sekedar diketahui, dialog interaktif ini ditayangkan setiap hari Rabu pagi mulai pukul 10.00-11.00 WIB. Dapat diakses melalui telepon (0283) 671636, link youtube di https://youtu.be/7heRkU14Llk, link radio streaming di http://singosarifmbrebes.radiostream123.com/ serta http://www.topfm951.net/. (Aan)

Selasa, 05 November 2019

Upaya Menekan Hama Tikus Di Bumiayu Brebes Dengan Rubuha, Berbuah Manis


Brebes – Upaya Babinsa Koramil 08 Bumiayu, Kodim 0713 Brebes, dalam melahirkan inovasi Rubuha (Rumah Burung Hantu) di desa binaannya, Desa Kaliwadas dan Kalinusu, telah mengantarkannya mendapatkan anugerah sebagai Babinsa inspiratif di jajaran Korem 071 Wijaya Kusuma.


Beberapa waktu yang lalu, Sertu Eko Nuhyoto, menerima anugerah tersebut dari
Danrem, Kolonel Kavaleri Dani Wardhana, di Lapangan Upacara Makorem, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah 28/10).

Diterangkan Eko Nuhyoto, di Desa Kaliwadas terdapat 6 Rubuha yang dibangun dengan menggunakan tiang pipa paralon yang diisi cor-coran semen dengan estimasi biaya senilai Rp. 750 ribu/rumah burung hantu jenis strix seloputo, tyto alba (serak Jawa) dan tyto almae (serak seram). Di lahan percontohan Koramil seluas 5 hektar ini, telah terisi sebanyak 5 ekor burung.

“Kami bersama BPP, PPL Kecamatan Bumiayu, mengajak para Gapoktan dan Poktan untuk merealisasikan ide pembuatan Rubuha untuk mengatasi hama tikus sawah,” ucapnya melalui pesan whatsapp.

Tampak Eko Nuhyoto bersama Danramil, Kapten Infantri Ngadino dan Daryoto (54) Bendahara Gapoktan Kaliwadas, sedang memantau keberadaan burung hantu di Demplot Koramil atau areal persawahan milik Gapoktan Kaliwadas. Selasa (5/11/2019).

“Proyek yang didanai oleh BPP Bumiayu ini dibuat pada akhir tahun 2014. Kini hama tikus di lahan seluas 5 hektar menyusut sekitar 40 % dan panen warga rata-rata meningkat sebanyak 1 ton jenis padi situbagendit,” imbuhnya.

Diterangkannya juga, untuk di Desa Kalinusu, telah berdiri sebanyak 9 Rubuha yang tersebar di lima titik lokasi milik Poktan Galuh Tani, Beji Tani dan Sri Unggul Tani. Disini terisi sebanyak 6 ekor burung.

Ketua Poktan Galuh Tani merangkap Sekretaris Gapoktan Kalinusu, Mei Harto (52) mengatakan bahwa, pembuatan Rubuhan dengan menggunakan media batang bambu dan kayu ini, bersumberkan dari swadaya masyarakat.

Sementara dikatakan Ketua BPP Bumiayu, Bambang, bahwa upaya ini untuk menanggulangi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) berupa hama tikus sawah (rattus argentiventer) yang menyerang lahan pertanian demi ketahanan pangan, menekan laju inflasi dari sisi suplai.

Sehingga tanaman padi warga setempat dapat terhindar dari organisme pengganggu tanaman (OPT) berupa tikus sehingga hasil produksi dapat tetap terjaga.

“Pencegahan hama tikus dengan proses alami ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama, namun hasilnya sangat efektif,” jelasnya.

Ditambahkannya, tidak semua lahan pertanian di desa tersebut rawan tikus, sehingga pemasangan Rubuha diprioritaskan di dekat tanggul sungai. Burung hantu tidak bisa membuat sarang sendiri, sehingga harus dibuatkan sarang.

Makanan dari burung hantu ini 99 % adalah tikus. Jenis tyto alba setiap malam mampu memakan 10-15 ekor tikus, dari kemampuannya melihat mangsanya sejauh 500 meter serta mendeteksi suara dari gerakan gerombolan tikus sejauh 12 kilometer. Waktu berburunya setiap malam tidak peduli musim penghujan atau kemarau.

“Jika berbunyi, suara burung hantu sudah cukup untuk menakuti tikus. Dua ekor saja mampu mengawasi lahan seluas 5–10 hektar dengan daya jelajah mencapai radius 12 kilometer,” pungkasnya.

Inilah upaya pengendalian tikus dengan mengaktifkan kembali rantai makanan. Selain burung hantu, ular sawah juga efektif mengatasi masalah petani serupa. (Aan)

Selasa, 01 Oktober 2019

Cucak Ijo Kostrad Milik Anggota Kodim Brebes Juara Lagi Di Piala Endog Asin


Brebes – Kostrad, burung jenis cucak ijo kembali menyabet juara di beberapa kelas perlombaan kicau mania bertajuk Festival dan Kompetisi Burung Berkicau Piala Endog Asin 2, yang digelar Segara Madu BC, di Depan Kantor Desa Bulakparen, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Minggu (29/9/2019).




Dibenarkan pemiliknya, Sertu Amrulloh (kacamata) anggota Unit Intel Kodim 0713 Brebes wilayah Pantura, bahwa Kostrad menyabet 2 gelar di tiga kelas Latihan Prestasi (Latpres) yang berbeda. Yaitu juara kedua dari 50 peserta/burung di kelas utama Endog Asin atau tiket Rp. 100 ribu dan juara pertama di kelas B. Konslet tiket Rp. 50 ribu, dengan 5 bendera merah mutlak.

Tampak Amrulloh bersama perawat burung, Asepudin (45) warga Dusun/Desa Limbangan RT. 02 RW. 07, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes.

“Kostrad telah menjadi juara 1 lebih dari 200 kali baik even Latihan Bersama (Latber) maupun Latpres di beberapa kabupaten tetangga, yaitu Kuningan dan Cirebon Jawa Barat serta Tegal, Jawa Tengah, selama 5 bulan ini,” ucapnya.

Sementara dijelaskan Asepudin atau Asep, bahwa untuk juara kedua yang pernah diraih Kostrad kurang lebih 100 piala. Dirinya mengaku pernah menerima penawaran sebesar Rp. 19 juta, namun tak melepasnya karena belum mendapat restu empunya, Amrulloh.

“Untuk isiannya meliputi kapas tembak, gereja tarung, lovebird, kenari, jangkrik serta Isian pancawarna burung-burung hutan dan kecil,” ujarnya.

Diketahui, gantangan Segara Madu BC, merupakan salah satu gantangan yang sangat ramai dihadiri para pecinta burung dari berbagai kelas setiap hari Minggu sore untuk event Latber, yang diminati baik peserta lokal maupun dari luar wilayah Brebes. (Aan)

Sabtu, 18 Mei 2019

“Kucing Garong” Kembali Sabet Juara Kicau Mania Kelas di Tegal

Tegal – Kucing Garong kembali menyabet juara dalam lomba burung kicau dalam tajuk latihan bersama di X-Nyamat Bird Club, Kelurahan Kalinyamat Wetan Kecamatan Tegal Selatan Kabupaten Tegal. Tampak gambar, Serma Aan Setyawan, anggota Penerangan Kodim 0713 Brebes bersama Kucing Garong, setelah menyabet juara kedua dari 25 kontestan kelas murai batu. Jumat sore (17/5/2019).

Tempat yang selalu ramai didatangi setiap hari Selasa dan Jumat oleh kicau mania, baik itu lokal yaitu Kabupaten Tegal dan Kota Madya Slawi maupun beberapa kabupaten tetangga seperti Brebes dan Pemalang.

Bahkan salah satu senior kicau mania jenis cucak ijo asal Kelurahan/Kecamatan/Kabupaten Brebes, Wari Lengko (56) menyatakan bahwa X-Nyamat Bird Club merupakan kawah candradimuka atau penempaan mental beberapa macam burung guna meraih prestasi yang lebih tinggi.

“Jika mampu juara di Kalinyamat berarti burung siap untuk kelas yang lebih tinggi. X-Nyamat Bird Club patokan burung kedepan akan berprestasi tidak, dan cucak ijo saya juga pernah juara disana,” ungkapnya kepada Aan (17/5, malam).


Sementara diungkapkan Aan bahwa, hobi memelihara murai batu pada akhirnya pasti ingin memiliki burung yang istimewa dan meraih prestasi, padahal tak mudah memang memelihara murai baru dan memerlukan perawatan dan biaya cukup ekstra jika dibandingkan jenis burung lainnya.

“Sebelum ditangan saya, Kucing Garong ini pernah juara pertama dan ketiga di BBC Brebes bulan Maret 2019. Setelah bergonta-ganti murai yang kurang prospek dan ini yang ke-13 kali, akhirnya saya juara dua di dua tempat yang berbeda, yaitu Brebes dan Tegal,” ungkap Sersan yang mengaku masih belajar dan sangat junior dalam perburungan.

Diketahui, Kucing Garong merupakan murai batu jenis Medan dan Muda Hutan (MH). Dari keterangan sang pemilik sebelumnya, dipanggil nama tersebut karena jika harian terkadang berbunyi seperti kucing garong, namun tidak saat ngotot bertarung. (Teguh).