Tampilkan postingan dengan label Kapendam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kapendam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Oktober 2019

Wujudkan Kesetaraan Sosial Melalui Pembangunan RTLH


Semarang - Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain pangan dan sandang. Rumah juga sering menjadi identitas bagi siapapun yang tinggal/berada didalamnya, oleh karena itu sangatlah wajar bila semua orang ingin tinggal dan memiliki rumah yang layak dihuni bersama keluarganya. 




Bagi masyarakat menengah ke atas memiliki rumah layak huni mungkin tidak menjadi masalah, tapi sebagian masyarakat memiliki rumah layak huni bisa jadi hanya sebuah impian dan harapan.

Menyimak kondisi tersebut, TNI melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) berupaya mewujudkan kesetaraan sosial bersama-sama masyarakat dan stekholder yang ada di daerah membangun rumah tidak layak huni (RTLH) bagi masyarakat yang membutuhkan.

Demikian penuturan Kapendam IV/Diponegoro Letkol Kav Susanto, S.I.P., M.A.P. terkait pembangunan RTLH pada program TMMD Reg-106 Tahun 2019, diruang kerja Kapendam, Selasa (15/10/2019).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa pada TMMD Reg-106 yang di gelar di wilayah Kodim 0703/Cilacap, Kodim 0709/Kebumen, Kodim 0719/Jepara dan Kodim 0724/Boyolali, setidaknya akan dibangun 55 unit RTLH. Belum lagi di tempat-tempat di seluruh wilayah Indonesia.

Tujuan pembangunan RTLH, salah satunya adalah untuk membantu meningkatkan kesetaraan masyarakat agar memiliki tempat tinggal yang layak untuk ditinggali bersama keluarga. Dengan harapan apabila mereka sudah memiliki rumah layak huni maka dapat lebih fokus kepada pekerjaan dan matapencaharaianya sehingga hidupnya akan lebih mapan dan sejahtera.

“Bila masyarakat sudah memiliki tempat tinggal yang layak, mereka dapat lebih fokus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehingga hidupnya dapat lebih mapan dan sejahtera”, ungkapnya. 

Selain itu, pembangunan RTLH pada program TMMD merupakan sarana untuk menumbuhkan dan membangun sikap kebersamaan dan kegotongroyongan serta kepedulian sosial. 

Kebersamaan dan kegotongroyongan dalam pembangunan RTLH ini hanya permulaan, harapanya kedepan masyarakat akan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungannya. 

“Pembangunan RTLH untuk membiasakan masyarakat peduli terhadap lingkungannya dan bersama-sama bergotong-royong membantu masyarakat yang membutuhkan. Bukan hanya membangun RTLH saja, tetapi pada semua bidang”, pungkasnya.(pendam/penrem/pendim0713)

Sabtu, 12 Oktober 2019

TMMD Tanamkan Bela Negara Sejak Usia Dini


Semarang-Pasal 30 bahwa UUD 1945 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam bela negara. Bela negara tidak harus dengan mengangkat senjata maupun perang, apalagi dalam kondisi damai seperti saat sekarang ini.



Oleh karena itu, disetiap kegiatan TMMD materi wawasan kebangsaan dan bela negara menjadi salah satu sasaran kegiatan non fisik, yang tujuannya untuk memantik dan menanamkan semangat bela negara kepada seluruh waga Indonesia dimanapun berada.

Demikian penyampaian Kapendam IV/Diponegoro Letkol Kav Susanto, S.I.P., M.A.P. di sela-sela kegiatan Latihan Kesiapsiagaan Operasional Kodam IV/Diponegoro, di Makodam IV/Diponegoro, Rabu (8/10/2019). 

Untuk diketahui bahwa dalam program TMMD selain mengerjakan sasaran fisik berupa pembangunan jalan, RTLH dan sasaran fisik lainnya, juga terdapat sasaran sasaran non fisik yang diantaranya adalah tentang wawasan kebangsaan dan bela negara. 

Menurutnya bela negara tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat TNI atau Kepolisian saja, tetapi semua warga negara harus ikut berperan sesuai dengan bidang tugas masing-masing sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

“TNI dan Kepolisian sebagai komponen utama, dan rakyat Indonesia sebagai komponen pendukung. Jadi semua memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai peran dan bidangnya masing-masing”, ungkapnya.

Diterangkan Letkol Kav Susanto, bagi para petani adalah mengolah lahan pertaniannya dengan baik agar hasilnya melimpah sehingga dapat berswasembada pangan itu bagian dari bela negara. Bagi para peternak mengelola peternakannnya dengan baik agar swasembada daging itu juga bagian dari bela negara. Yang jadi pedagang silahkan melaksanakan perniagaan dengan baik agar roda perekonomian terus berputar, termasuk para pelaku pendidikan agar melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan baik sehingga menghasilkan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan maju.

“Hal semacam ini harus bisa dipahami dan dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat bahkan kepada anak-anak usia dini, agar nantinya memiliki pemahaman dan wawasan yang cukup dan benar tentang bela negara”, ibuhnya.

Dicontohkan Kapendam, beberapa waktu lalu anggota Satgas TMMD Kodim 0703/Cilacap Sertu Mulyono mengajar anak-anak di PAUD Barokah yang ada di Dusun Cironeng, Desa Cilibang, Kec. Jeruklegi Kab. Cilacap. Tanpa rasa canggung, Bintara dari Kodim Cilacap itu  mengajak anak-anak belajar yang rajin sembari mengenalkan warna, menggambar dan bernyanyi. 

Demikian pula yang dilakukan Anggota Satgas TMMD dari Kodim 0709/Kebumen Serma Badani. Saat menjadi Irup di SMK Ma’arif Sadang Kab. Kebumen, Senin (7/10/2019) dirinya mengajak kepada para guru dan para siswa untuk menegakkan tata tertib sekolah. Para siswa juga lebih semangat, giat dan tekun belajar. Itu semua adalah bentuk nyata dari bela negara, tandas Letkol Kav Susanto. 

Apa yang dilakukan kedua bintara tersebut tak lain dan tak bukan hanya untuk menanamkan semangat bela negara sejak usia dini. Anak-anak sekalipun memiliki andil dalam bela negara, yaitu dengan belajar yang rajin dan sunguh-sungguh, patuh dan taat kepada semua peraturan baik di sekolah maupun diluar sekolah, pungkasnya.(pendam/penrem/pendim0713)

Jumat, 13 September 2019

Kapendam : Tindakan Represif Karena Warga Tidak Bisa Dikendalikan

Semarang - Anggota TNI gabungan dari Kodim 0709/Kebumen dan Yonif 403/WP yang sedang mengamankan pekerjaan pemagaran aset TNI AD terpaksa bertindak represif terhadap aksi demo yang dilakukan ratusan warga yang menolak pemagaran Lapangan Tembak Dislitbangad, Rabu (11/9/2019).

Hal tersebut dibenarkan Kapendam IV/Diponegoro Letkol Kav Susanto, S.I.P, M.A.P., melalui sambungan telepon. 

Diterangkan Kapendam, kejadian itu bermula dari adanya pengerjaan proyek pemagaran tahap III  areal Lapbak Dislitbangad yang berlokasi di  Desa Brencong, Kec. Buluspesantren Kab. Kebumen. Pada saat yang sama datang masyarakat yang mengaku memiliki tanah tersebut, namun tidak mempunyai surat kepemilikan yang sah. 

Kegiatan pemagaran yang dilakukan Kodam IV/Diponegoro adalah untuk mengamankan aset negara. Selain itu, juga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, karena area tersebut merupakan daerah latihan atau tepatnya lapangan tembak. Namun demikian masyarakat tetap diperbolehkan untuk menggarap lahan tersebut dengan catatan tidak boleh mengklaim bahwa tanah tersebut merupakan tanah miliknya sampai dengan ada keputusan lebih lanjut, imbuhnya.

“Perlu diketahui, berdasarkan Surat DJKN Kanwil Prov. Jateng Nomor S-825/KN/2011 tanggal 29 April 2011 tentang Penjelasan bahwa tanah kawasan latihan TNI seluas 1.150 HA diperoleh dari peninggalan KNIL tahun 1949. Saat ini tanah tersebut sudah masuk daftar Barang Milik Negara dengan Nomor Registrasi 30709034, jadi bukan milik warga”, tandasnya

Adanya pengusiran warga yang dilakukan oleh aparat dengan tindakan keras di lapangan karena masyarakat tidak mau meninggalkan area tersebut dengan cara baik-baik (persuasif). Masyarakat sudah tidak bisa dikendalikan dan cenderung berbuat anarkis, maka terjadilah tindakan represif agar warga dapt meinggalkan lokasi, imbuhnya.

“Apa yang dilakukan TNI semata-mata melaksanakan perintah yang tertuang dalam PP No 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara. Jadi apa yang dilakukan TNI adalah kontitusional”, tegasnya.

Kapendam juga menegaskan, bahwa tindakan yang dilakukan Kodam IV/Diponegoro tetap mengedepankan tindakan persuasif dengan memaksimalkan mediasi dan mengajak masyarakat untuk duduk bersama menyelesaikan masalah tersebut.

Saat ini pekerjaan pemagaran untuk sementara dihentikan, tetapi kami minta masyarakat juga menghentikan aktivitasnya di sekitar area Lapbak.  Apabila masyarakat merasa memiliki kepemilikan lahan secara sah, silahkan menuntut jalur hukum di pengadilan, pinta Kapendam.

Mengenai adanya korban yang terjadi baik di pihak aparat maupun masyarakat, sampai saat ini masih di crosscheck oleh petugas kami di lapangan, pungkasnya.(pendam/penrem/pendim0713)

Sabtu, 03 Agustus 2019

Bersama TNI Membangun Desa Mandiri dan Sejahtera

OPERASI MILITER SELAIN PERANG (OMSP)
Bersama TNI Membangun Desa Mandiri dan Sejahtera



Tidak sedikit masyarakat yang masih beranggapan bahwa tugas TNI hanyalah perang untuk menegakkan kedaulatan negara dan mempertahankan keutuhan wilayah NKRI. Anggapan itu tidak salah, namun sesungguhnya berdasar UU No. 34 Tahun 2004 tentang TNI, untuk melaksanakan tugas pokoknya disamping dilakukan melalui operasi militer perang (OMP) juga dilakukan melalui operasi militer selain perang (OMSP).  

Sesuai Pasal 7 Ayat (2) UU tersebut, dalam OMSP terdapat 14 macam operasi diantaranya memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta serta membantu tugas pemerintahan di daerah yang diantaranya diimplementasikan melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD). 

Demikian penjelasan Kapendam IV/Diponegoro Kolonel Arh Zaenudin, S.H., M.Hum., terkait pelaksanan program TMMD Reguler yang hingga tahun 2019 ini sudah memasuki periode ke-105, di sela-sela kegiatan pemantauan TMMD Kodam IV/Diponegoro.

Diterangkan Kolonel Arh Zaenudin, melalui TMMD, TNI berupaya untuk membinaan dan memberdayakan semua potensi yang ada, mulai dari geografi, demografi maupun kondisi sosial menjadi potensi pertahanan baik pada aspek ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan maupun aspek-aspek berpengaruh lainnya, sehingga dapat meningkatkan ketahanan wilayah dalam menghadapi setiap kemungkinan ancaman.

Secara bottom-up mulai dari musyawarah desa bersama Babinsa, program TMMD diusulkan dengan  berdasarkan sekala prioritas. Adapun sasaran kegiatan pada TMMD Reguler ke-105 kali ini adalah wilayah/daerah-daerah yang berkategori pra sejahtera, daerah perbatasan maupun daerah rawan yang perlu mendapat perhatian lebih dibanding desa yang lain.

Hal ini merupakan bentuk komitmen TNI yang akan selalu hadir bersama-sama masyarakat untuk membantu pemerintah daerah dalam menyelesaikan persoalan masyarkat maupun mewujudkan kesejahteraan, baik melalui peningkatan kehidupan ekomomi maupun pembangunan dan peningkatan atau perbaikan fasilitas infrastruktur seperti jalan, jembatan, irigasi, sanitasi warga serta fasilitas-fasilitas umum lainnya.
  
Menurut Kapendam, pembangunan jalan, jembatan, talud irigasi dan pembagunan rumah tidak layak huni (RTLH) serta infrastruktur lainnya pada sasaran fisik TMMD Reguler ke 105 tahun 2019 merupakan hal yang relevan untuk mewujudkan cita-cita nasional dalam rangka memajukan kesejahteraan umum. 

“Jalan, jembatan dan irigasi merupakan sarana vital yang mutlak harus terpenuhi bagi masyarakat pedesan yang mayoritas berprofesi sebagai petani”, ungkapnya.

Dengan tersedianya sarana jalan, jembatan dan saluran irigasi yang memadai tentu laju perekonomian juga akan semakin lancar, karena aktifitas para petani mulai dari pengolahan lahan hingga pasca panen maupun aktifitas usaha perekonomian lainnya seperti peternakan, pariwisata dan perdagangan/UMKM akan berjalan lancar, imbuh Kapendam.

Dikatakan Kapendam, Gubernur Jateng H. Ganjar Pranowo, S.H., M.IP.  saat membuka TMMD Reguler ke 105 di lapangan Trimurti, Dukuh Marangan, Desa Jimbung, Kec. Kalikotes, Kab. Klaten, sudah menerangkan bahwa TMMD merupakan program terpadu antara TNI dan pemerintah dalam rangka pemerataan pembangunan dan mensejahterakan masyarakat.

“Gubernur ingin seluruh desa di Jateng semakin maju dan mandiri. Beliau juga ingin kehidupan rakyat Jateng semakin sejahtera. Pada prinsipnya, masyarakat kita harus betul-betul dapat hidup secara baik, sehat dan sejahtera”, imbuhnya.

Menurutnya, penyampaian tersebut tidaklah berlebihan dan tidak mengada-ada. Dandim 0723/Klaten Letkol Inf Eko Setyawan, S.E, Dandim 0730/Gunungkidul, Letkol Inf Noppy Laksana Armyanto dan Dandim yang lain selaku Dansatgas TMMD juga meyakini bahwa pembangunan jalan, jembatan dan irigasi sangat strategis untuk mendorong perekonomian masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani, peternak, wiraswasta dan buruh harian lepas.

Senada dengan pernyataan tersebut, Kepala Desa Jimbung, Kec. Kalikotes, Kab. Klaten, Siti Sumarsih juga sangat yakin dengan adanya pembangunan jalan di desanya dapat meningkatkan potensi yang ada seperti penangkaran burung jalak dan wisata Sendang Bulusan yang nantinya akan meningkatkan perekonomian masyarakat di desanya.

Hal tersebut juga dibenarkan warga Desa Banaran, Kec. Playen Kab. Gunung Kidul, yang salah satunya adalah Sunardi. Dirinya berharap dengan dibangunnya infrastruktur jalan, roda perekonomian bisa lebih berputar. Jika jalan bagus maka aktivitas warga jadi semakin mudah, mau ke sawah jadi gampang, ke pasar atau mengantar anak ke sekolah juga lebih cepat.

Demikian pula dengan pembangunan RTLH bagi warga yang kurang mampu. Dengan telah memiliki rumah yang layak, beban kehidupan akan berkurang dan mereka dapat tinggal lebih sehat dan nyaman. Bila mereka sudah merasa sehat dan nyaman dengan sendirinya akan lebih bersemangat dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang lainnya, terang Kapendam.

Seperti apa yang disampaikan Mbah Serun (80) yang tinggal Dusun Grogol, Desa Jatimulya,  Kec. Suradadi, Kab. Tegal dan Mbah Yatin (75), yang berdomisili di Desa Kalikondang, Kecamatan Demak Kota. Keduanya sangat bersyukur karena dengan ketidakberdayaanya, rumah yang sudah puluhan tahun dihuninya direhab TNI. Diungkapkan bahwa keinginannya untuk merehap rumahnya sudah sangat lama, tetapi jangankan untuk merehab rumah, untuk hidup sehari-hari saja serba kekurangan.
Sedangkan terkait aspek kesehatan lingkungan, persoalan sanitasi juga menjadi perhatian serius pada TMMD 105. Masih banyaknya warga yang belum memiliki sanitasi keluarga di selesaikan melalui pembangunan jamban-jamban keluarga.

Kapendam juga mengungkapkan, dari data yang berasil dihimpun, pada program TMMD Reguler ke 105 ini telah dibangun sarana jalan sepanjang 8,8 KM, jembatan sepanjang 12 M, talud pengaman jalan dan irigasi sepanjang 1 KM, RTLH 39 unit dan pembangunan sarana pendukung lain seperti jambanisasi dan rehab tempat ibadah serta pos Kamling. Belum lagi dengan program TMMD Sengkuyung yang digelar di Kodim jajaran Kodam IV/Diponegoro.

“Alhamdulillah semua berjalan sesuai rencana, berkat kerja sama dan peran serta seluruh komponen masyarakat yang telah bergotong-royong untuk memajukan desa mereka”, ungkapnya.

Hal tersebut senada dengan apa yang disampaikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Mochamad Effendi, S.E., M.M., saat meninjau kegiatan TMMD di wilayah Kodim 0712/Tegal beberapa waktu lalu.  Semua masyarakat ikut terlibat untuk bersama-sama berpartisipasi dan berperan serta dalam kegiatan di TMMD, agar semua merasa ikut andil dan terlibat sehingga merasa ikut memiliki. Bila sudah merasa memiliki maka merekapun akan menggunakan dan memelihara secara bersama-sama.

"Semua ikut berpartisipasi/berperan sesuai situasi dan kondisi. Yang masih kuat bisa ikut bekerja menata batu, atau ikut menyediakan air minum,  atau membantu materiil yang dibutuhkan”, pintanya.

Disamping menumbuhkan semangat gotong royong, salah satu sasaran yang juga harus dicapai adalah terbangunnya hubungan emosional/kedekatan TNI dengan Rakyat. Hal ini diaplikasikan dengan bersatunya TNI-Rakyat dalam setiap kegiatan bahkan Anggota TNI yang terlibat satgas TMMD juga tidur di rumah penduduk.

Begitupula dengan uang makan mereka juga dimasak di rumah tersebut dan dimakan bersama-sama keluarga mereka. Selama 1 bulan mereka akan selalu bersama dalam satu keluarga sehingga bisa turut merasakan suka dan dukanya. Diharapkan hubungan ini akan terus dibangun walaupun TMMD telah selesai dilaksanakan dalam hubungan keluarga asuh TMMD.

Bukan hanya itu saja, selain mendapat program pembangunan infrastruktur,  dalam rangka mengantisipasi dampak disrupsi teknologi, masyarakat juga dibekali dengan wawasan kebangsaan, bijak bermedsos, penanggulangan terorisme dan radikalisme.

"Masyarakat pedesaan juga harus melek teknologi dan memiliki wawasan yang luas agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi", imbuhnya. 

Sedangkan pada aspek ekonomi, untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi rakyat, Satgas TMMD juga memberikan bekal kepada masyarakat desa tetang ilmu pengetahuan dan keterampilan pertanian, peternakan, kesehatan dan sebagainya khususnya tentang ekonomi kreatif. Hal yang cukup menarik adalah adanya bantuan alat penetas telur bagi masyarakat sebagai rangsangan untuk tumbuhnya UMKM di setiap desa sasaran TMMD

Kolonel Arh Zaenudin berharap, dengan telah terbangunnya infrastruktur yang memadahi dan bekal wawasan kebangsaan dan ilmu pengetahuan serta berbagai keterampilan, kehidupan masyarakat di pedesaan dapat lebih sejahtera. Desa-desa dipinggiran menjadi desa madiri yang dapat bersaing dengan desa-desa di perkotaan. Inilah tujuan akhir dari OMSP, bersama TNI membangun desa mandiri dan sejahtera. 

Senada dengan Kapendam, Bupati Klaten Sri Mulyani pada saat acara pembukaan TTMD di Desa Jebung Kec. Kalikotes Kab. Klaten juga berharap dengan adanya TMMD di wilayahnya, maka desa yang dahulunya kondisi merah/prasejahtera akan menjadi desa yang hijau/sejahtera dan mandiri.

Jumat, 12 April 2019

Penerangan Kodam IV Diponegoro Gelar Workshop Jurnalistik

Semarang – Sebagai institusi yang masih memegang kepercayaan tertinggi dari masyarakat, TNI selalu berimprovisasi memelihara serta meningkatkan profesionalismenya, termasuk gencar dalam publikasi kegiatan TNI.  


Di Kodam IV Diponegoro, Penerangan Kodam (Pendam) menggelar pelatihan peningkatan kemampuan fungsi penerangan yang bertajuk workshop jurnalistik (gabungan antara teori dan praktek) di Aula Pendam Makodam, Jalan Perintis Kemerdekaan Watugong, Banyumanik, Semarang.

Acara yang dibuka oleh Kapendam, Kolonel Arhanud Zaenudin, juga diikuti ratusan admin media online maupun Medsos dari masing-masing satuan di jajaran Kodam, termasuk admin dari Kodim 0713 Brebes. Kamis (11/4/2019).

Kolonel Zaenudin menekankan agar masing-masing admin TNI agar bijak dalam menggunakan Medsos. Bagi admin satuan tempur agar menonjolkan militansi TNI, sedangkan di satuan teritorial/Kodim, untuk mengangkat pemberitaan sosial kemasyarakatan di wilayah binaannya masing-masing.

“Sebelum mempublikasikan suatu berita, saring sebelum share agar tidak menjatuhkan citra TNI,” ucapnya.

Ditambahkannya, nama harum TNI sebagai benteng negara juga diakui mancanegara melalui keterlibatannya dalam misi-misi perdamaian maupun kegiatan social penanganan bencana alam.

peran rekan-rekan media umum sangat besar dan penting dalam mempublikasikan kegiatan TNI. “Jaga komunikasi dan harmonisasi dengan rekan-rekan media,” tegas Kapendam.

Acara puncak yaitu materi tentang pentahapan rilis berita maupun etika jurnalistik yang disampaikan oleh Mayor Infantri Sukamto, serta tata cara pengambilan foto baik untuk dokumentasi, publikasi maupun lomba. (Aan Pendim Brebes).