Rabu, 04 Desember 2019

Alat Pengolahan Sampah Di TPA Kalijurang Tonjong, Solusi Sampah Masyarakat Di Brebes Selatan


Brebes – Penanganan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Kalijurang, Desa Kalijurang, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dikupas lengkap dalam Talk Show Aksi Babinsa Kodim 0713 Brebes, yang ke-9 kali ini. Rabu (27/11/2019).




Selaku narasumber yaitu Babinsa setempat dari Koramil 09 Tonjong, Serka Syaefudin, ia menjelaskan tentang perannya dalam memberikan edukasi kepada masyarakat melalui kegiatan sosialisasi sehingga keberadaan TPA tidak menjadi konflik sosial di lingkungan masyarakat.

“Kami juga memotivasi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya kepada FKD (Forum Kesehatan Desa), bahwa jika nantinya alat pengolahan sampah sudah ada maka akan dapat menyerap tenaga kerja setempat,” ucapnya.

Hal ini juga dibenarkan narasumber kedua yang merupakan Kepala Desa Kalijurang, Edi Riyanto (42).

Dijelaskan Edi bahwa, setiap 3 bulan sekali FKD menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk Gema Kalijurang Sehat, dimana memfasilitasi masyarakat untuk pembuatan BPJS gratis, pelayanan kesehatan secara berkala dan donor darah.

“Puncaknya setiap satu tahun sekali FKD dalam program Gema Kalijurang Sehat menyelenggarakan festival Kalijurang sehat,” beber Kades yang baru saja dilantik 15 Juli 2019 lalu.

Dikatakannya juga bahwa, TPA yang terletak di RW. 4 Dusun/Desa Kalijurang itu, berjarak kurang lebih 100 meter dari pemukiman terdekat, sehingga pengadaan alat pengolahan sampah yang diajukan kepada Pemkab melalui DLHPS Kabupaten Brebes pada anggaran tahun 2020 ini, terealisasi. Pasalnya, sangat dibutuhkan terutama menjelang musim penghujan ini.

Dikatakannya kepada media, bahwa TPA sudah ada sejak tahun 1999. Dari hasil audiensi dengan masyarakat beberapa waktu yang lalu (13/8), diperoleh kesepakatan antara masyarakat dengan pihak DLHPS tentang penataan TPA, seperti pendirian Unit Pengelola Teknis (UPT) di wilayah selatan hingga ke depan pemusnahan sampah tidak dibakar lagi.

Edi sangat berharap pengadaan alat pengolahan sampah tersebut akan dapat memberikan solusi terhadap dampak bau, lalat serta sampah yang semakin menumpuk sehingga beterbangan menutupi lahan produktif masyarakat. Pun dengan dengan upaya penghijauan/reboisasi untuk meminimalisir racun dari sampah melalui tumbuhan.

“Inilah aspirasi dari masyarakat dan FKD Desa Kalijurang, yang ingin hidup sehat seperti kebanyakan masyarakat lainnya. Ini juga merupakan masukan demi kepentingan bersama,” pungkasnya.

Seperti diketahui, kebanyakan kalangan menolak jika wilayah di sekitar desanya dijadikan tempat pembuangan sampah, termasuk di Kalijurang. Namun keberadaan TPA yang telah 20 tahun beroperasi menampung kiriman sampah  dari sejumlah wilayah di Brebes selatan yang tanpa proses daur ulang ini, jika diolah dengan tepat tidak menutup kemungkinan akan mensejahterakan warga setempat yang mayoritas sebagai petani dalam aspek ekonomi.

Sebaliknya jika menampung terus-menerus tanpa proses daur ulang, maka jelas akan berdampak pada lingkungan dan kesehatan bagi warga yang bermukim di sekitarnya.

Melalui dialog interaktif ini diharapkan mengingatkan pihak berwenang agar segera mengalokasikan anggaran untuk pengadaan alat tersebut.

Untuk diketahui, talk show ini ditayangkan setiap hari Rabu pagi mulai pukul 10.00-11.00 WIB. Dapat diakses melalui telepon Radio Singosari di (0283) 671636, link youtube di https://youtu.be/7heRkU14Llk, link radio streaming di http://singosarifmbrebes.radiostream123.com/ serta http://www.topfm951.net/. (Aan)

Senin, 02 Desember 2019

Awal Desember 2019, Brebes Kembali Kehilangan Salah Satu Babinsa Terbaiknya


Brebes – Satuan teritorial Kodim 0713 Brebes kembali kehilangan satu orang Babinsa terbaiknya, di wilayah Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.




Adalah Pelda Ismail NRP 633462, Bati Tuud Koramil 11 Paguyangan dan juga sebagai Babinsa yang membina Desa Kedungoleng, resmi melaksanakan Masa Persiapan Pensiun (MPP), terhitung mulai tanggal 1 Desember 2019.

Tampak Dandim, Letkol Infanteri Faisal Amri, SE, memberikan kenang-kenangan kepada yang bersangkutan selepas upacara pengibaran Bendera Merah Putih di halaman Makodim, yang merupakan acara pelepasannya (korp raport). Senin (2/11/2019).

Pada kesempatan tersebut, Dandim juga mengucapkan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian selama di wilayah Kabupaten Brebes.

Tak hanya pimpinan, pemberian ucapan selamat juga dilakukan seluruh peserta upacara.

Sementara Dikatakan Ismail yang merupakan putra daerah Madukara Kabupaten Banjarnegara, Jateng ini, bahwa dirinya merasa bangga dapat mendedikasikan tenaga dan pikirannya di Kota Bawang Brebes. (Aan)


Ciri-ciri Ular Berbisa Dan Cara Aman Menangkapnya, Diberikan Kepada Pramuka SWK Larangan Brebes


Brebes – Edukasi tentang pengenalan reptil serta teknik penangkapan ular, diberikan oleh Komunitas Pecinta Satwa Jatibarang Brebes (PSJB) kepada puluhan anggota Saka Wira Kartika (SWK) binaan Koramil 16 Larangan Kodim 0713 Brebes.








Dibenarkan Pembina SWK, Serka Sugiyono, bahwa dalam krida survival pembinaan SWK kali ini, juga diberikan tentang pertolongan pertama/penanganan gigitan ular di lapangan. Senin (2/12/2019).

“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi anggota SWK saat berada di alam. Orang biasa membunuh ular jika melihat, namun mereka diajarkan melestarikan reptil dengan menangkap jika diperlukan dan tanpa membunuhnya,” ucap Sugiyono.

Senada juga disampaikan Ketua PSJB Jatibarang, Juned, bahwa pengenalan reptil khususnya ciri-ciri utama ular berbisa, akan sangat penting jika para anggota pramuka tersebut menemui hewan melata itu di alam liar, menangani gigitannya serta cara evakuasi/menangkapnya jika diperlukan sehingga tidak membahayakan orang lainnya di sekitar hutan.

Juned juga memperagakan teknik menangkap ular dengan metode tali kolong dari media tali dan pipa PVC.

“Dengan alat bantu yang terbuat dari tali kolong yang dipasang di ujung pipa paralon, merupakan cara yang paling aman untuk menangkap ular berbisa,” ucapnya.

Ditambahkannya, teknik kolong juga bisa untuk menangkap reptil lainnya, namun tentu saja harus disesuaikan antara kekuatan alat dengan sasarannya. Mereka juga memperagakan tentang bagaimana menangkap ular secara manual dengan ranting pohon.

Tim ini juga membawa beberapa ular sanca, ular tidak berbisa lainnya yang telah jinak, dengan maksud agar para anggota SWK yang tadinya takut dengan ular menjadi tidak takut lagi menghadapinya. Beberapa ular berbisa, juga dibawa sebagai pengenalan.

Tak lupa Aska (20), anggota PSJB Jatibarang, membeberkan singkat tentang ciri-ciri morfologi ular berbisa yang meliputi bentuk kepala segitiga/viper (kecuali cobra), memiliki taring menonjol, gerakan cenderung tenang/tidak terlalu agresif, tidak membelit karena memiliki bisa/racun, warnanya mencolok, terlihat seluruh badannya saat berenang di air, mata lonjong dengan pupil elips, terdapat satu baris sisik di ujung ekor.

Selain itu, terdapat lubang sensor berdarah panas yang terletak di antara mata dengan lubang hidung, bekas luka gigitannya halus dan berbentuk lengkung serta tidak langsung pergi jika telah mematuk karena menunggu korbannya mati. Ular berbisa akan lebih agresif saat mempertahankan sarang atau teritorinya jika diusik, makanannya hewan karnivora serta memakan ular lainnya bahkan satu spesiesnya sendiri.

“Di dunia, terdapat sekitar 200 jenis ular berbisa dari lebih dari 2.000 spesies ular. Untuk yang berbisa di sekitar lingkungan antara lain kobra/sendok, ular tanah, ular hijau, ular laut dan ular pohon, serta weling,” bebernya.

Lanjutnya, untuk ular yang tak berbisa mempunyai ciri antara lain bentuk kepala kebanyakan lonjong telur, warna tidak mencolok sehingga tersamar dengan kondisi lingkungannya, mata dengan pupil bulat, memiliki dua baris sisik di ujung ekor dan bekas gigitan terlihat berderet dan tersusun rapi, dan ular biasanya langsung pergi melarikan diri setelah mematuk. (Aan)

Segel PT. RUM Sidoarjo Ditemukan Warga Di Lokasi Pembuangan Limbah Cair B3 Di Kutamendala Brebes

Brebes – Limbah cair B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) telah dibuang oknum tidak bertanggung jawab di bantaran Kali Pedes, Dukuh Satir RT. 05 RW. 09, Desa Kutamendala, Kecamatan Tonjong, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sabtu (30/11/2019).






Menurut salah satu warga setempat yang melaporkan kepada pihak Polsek dan Koramil, Kasro (59), bahwa dari pengecekan masyarakat limbah berwarna kuning kecoklatan dengan bau sangat menyengat, menimbulkan sesak napas serta mematikan tanaman yang terkena cairan, mereka menemukan segel yang tercantum nama PT. Rayon Utama Makmur (RUM) Sukoharjo, Jateng, dengan nomor segel 1803425.

“Pembuangan limbah itu tepat di samping warung saya. Saya tidak tahu persis siapa yang membuangnya,” ucap Kasro.

Limbah ditemukan warga dan sengaja dibuang oleh orang tak dikenal pada Rabu (27/11), di sekitar bantaran Kali Pedes sehingga menyebabkan areal seluas 50 x 25 meter, menjadi tercemar. Pasalnya, limbah mengalir ke tanah yang lebih rendah.

Dugaan masyarakat, pembuangan dilakukan pada tengah malam karena di tempat ini tidak ada aktivitas orang. Menurutnya juga, pembuangan limbah tersebut, adalah yang ketiga kalinya.

Sementara menurut Kepala UPT DLHPS Wilayah Bumiayu, Abdulah Sudrajat, bahwa pihaknya telah mengambil sampel cairan limbah untuk diteliti.

“Kami juga menemukan segel yang bertuliskan PT. RUM di TKP. Semoga segel ini sebagai petunjuk untuk mengungkap siapa yang membuangnya ke wilayah Bumiayu,” ucapnya.

Dikutip dari Tribunjateng.Com, permasalahan limbah ini, sebelumnya di juga dikeluhkan masyarakat Sukoharjo, dengan menggelar aksi demo secara besar-besaran di Pemkab Sukoharjo (27/11), terkait pencemaran udara hasil dari asap yang dikeluarkan dari cerobong PT. RUM. Aksi yang lebih besar akan kembali digelar dengan melibatkan 10 ribu massa dari organisasi yang terdaftar dan terkoordinir serta masyarakat, jika dampak masih dirasakan masyarakat.

Saat ini permasalahan tersebut masih dalam penyelidikan dinas terkait serta pihak berwajib yaitu Polsek Tonjong.

Sekedar diketahui, aksi pencemaran lingkungan ini telah melanggar Undang–undang RI No. 32 tahun 2009, tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Salah satunya adalah setiap kegiatan usaha harus dilengkapi dengan dokumen lingkungan hidup serta wajib melaporkan secara berkala perkembangan dari dampak lingkungan yang ditimbulkan dari kegiatan usaha tersebut.

Serta pembuangan limbah B3 baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan /atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.

Pelakunya juga dapat dikaitkan dengan Undang-undang No. 32 tahun 1992 tentang kesehatan, UU No. 24 tahun 1992 tentang penataan ruang, Keputusan Menteri Negara KLH RI No. Kep.02/menklh/i/1988 tentang pedoman penetapan baku mutu lingkungan, Peraturan Menteri Kesehatan RI No.472/menkes/per/v/1996 tentang pengamanan bahan berbahaya bagi kesehatan, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 05 tahun 2012 tentang jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan analisis dampak lingkungan hidup, serta Undang-undang No.14 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik. (Aan)

Minggu, 01 Desember 2019

Aksi Nyata Babinsa Bumiayu Brebes Gagas Rubuha Sebagi Predator Alami Musuh Petani


Brebes – Penanganan hama tikus dengan metode predator alami yaitu burung hantu, dikupas lengkap dalam Talk Show Aksi Babinsa Kodim 0713 Brebes. Rabu (27/11/2019).




Acara ini disiarkan secara live di Radio Singosari 103.9 FM Brebes dan News Singosari FM Ketanggungan, sedangkan tunda di Radio Top FM Bumiayu pada pukul 12.00 WIB setelahnya. Tampak Rara Elshanum atau Siti Khumairoh (31), memandu di Studio 2 Singosari 103.9 FM Brebes.

Narasumber yang dihadirkan adalah salah satu Babinsa inspiratif Kodim Brebes, penggagas Rubuha (Rumah Burung Hantu) di wilayah Kecamatan/Koramil 08 Bumiayu, Sertu Eko Nuhyoto. Dirinya juga telah mendapatkan penghargaan dari Danrem 071 Wijayakusuma, Kolonel Kavaleri Dani Wardhana (28/10), atas gagasannya mengatasi hama para petani padi di dua desa, Kalinusu dan Kaliwadas.

Dalam kesempatan ini, Babinsa mendapatkan 5 penelepon yang menanyakan seputaran tentang burung hantu dan cara kerja sebagai pemangsa tikus sawah.

Diterangkannya, di Desa Kaliwadas terdapat enam Rubuha yang dibangun dengan menggunakan tiang pipa paralon yang diisi cor-coran semen dengan biaya senilai Rp 750 ribu/rumah burung hantu dan kini telah terisi 5 ekor jenis tyto alba (serak Jawa) dan tyto almae (serak seram). Untuk anggarannya didanai dari BPP Kecamatan Bumiayu dan telah dibuat pada 2014 silam.

“Saat ini ada dua pasang burung hantu yang sedang bertelur dan satu pasang telah menetaskan anak,” ucapnya.

Di lahan seluas 5 hektar percontohan ini, kini tikus sawah menyusut sekitar 40 persen dan panen warga rata-rata meningkat sebanyak 1 ton jenis padi situbagendit.

Sedangkan di Desa Kalinusu, telah didirikan 9 Rubuha dengan media tiang bambu swadaya masyarakat, tersebar di lima titik lokasi milik Poktan Galuh Tani, Beji Tani dan Sri Unggul Tani.  Disini telah terisi sebanyak enam ekor.

Dijelaskannya juga, untuk ukuran box Rubuha adalah 40 x 60 x tinggi 40 centimeter, dengan lubang utama 25 centimeter. Burung hantu tidak bisa membuat sarang sendiri, sehingga harus dibuatkan sarang untuk memancingnya tinggal.

“Pastikan Rubuhan rapat dan hanya satu lubang masuk. Ini karena predator malam ini suka dengan gelap,” bebernya.

Dengan cara ini memang membutuhkan waktu namun hasilnya sangat efektif. Ini karena burung hantu sanggup memakan tikus yang merupakan makanan utamanya sebanyak 10-12 ekor sehari, dari kemampuannya melihat mangsanya sejauh 500 meter. Burung ini juga mampu mendeteksi suara dari gerakan gerombolan tikus sejauh 12 kilometer dengan daya jelajah mencapai radius 12 kilometer.

Waktu berburu setiap malam bahkan tidak mengenal hujan. Jika berbunyi saja, suaranya sudah membuat para tikus bubar. Satu ekor saja mampu mengawasi lahan seluas 5 hektar.

“Semoga apa yang disampaikan ini dapat bermanfaat bagi para petani yang dekat kawasan hutan (radius 3 kilometer). Jika melihat adanya aktivitas burung hantu, tidak ada salahnya membuatkan rumahnya untuk mengatasi tikus,” pungkasnya.

Tak lupa ia berpesan kepada para petani, agar juga menjaga kelestarian ular sawah yang juga sebagai predator tikus alami dalam rantai makanan. (Aan)

Sekedar diketahui, dialog interaktif ini ditayangkan setiap hari Rabu pagi mulai pukul 10.00-11.00 WIB. Dapat diakses melalui telepon (0283) 671636, link youtube di https://youtu.be/7heRkU14Llk, link radio streaming di http://singosarifmbrebes.radiostream123.com/ serta http://www.topfm951.net/. (Aan)

Bersama Karya Bakti TNI, Dukuh Karangmangu Brebes Kini Punya Pos Kamling Hijau Dan Akses Layak

Ujo Brebes : Makna Maulid Nabi Muhammad Walaupun Digelar Sederhana


Brebes – Puluhan orang keluarga besar Kodim 0713 Brebes, juga menggelar acara Maulid Nabi Muhammad SAW, di Masjid Darut Taqwa Makodim, Jalan Pusponegoro No. 35 Brebes, Jawa Tengah. Senin siang (25/11/2019).




Maulid adalah hari kelahiran utusan terakhir dari Tuhan YME kepada umat islam, yang diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awwal, dan pada tahun ini jatuh pada 9 November. Acara ini berkembang pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Hal ini disampaikan penceramah, Ujo, panggilan akrab Ustad Dirjo dari Desa Gandasuli, Kecamatan/Kabupaten Brebes.

“Ini merupakan wujud rasa syukur serta penghormatan kepada utusan Allah,” ucapnya.

Lanjutnya, maulud mendorong orang untuk bershalawat yang merupakan perintah Allah. Hal ini merujuk kepada QS Al-Ahzab : 56 yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkan lah salam sejahtera kepadanya.”

Allah akan memberikan anugerah kepada umatnya yang bergembira atas kelahiran Nabi, termasuk juga terhadap orang non muslim.

Kecintaan kepada utusan Allah ini harus melebihi kecintaan terhadap diri sendiri, anak dan isteri, harta benda dan pangkat jabatan. Ini merujuk kepada HR. Bukhari yang berbunyi, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian hingga aku (Muhammad) lebih dicintainya daripada orang tua dan anaknya.”

Sambung Ujo, barang siapa berkumpul, membaca ayat-ayat Al Quran, menceritakan sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi dari kelahiran hingga wafatnya, dan diadakan pula sedekah berupa hidangan lainnya, adalah merupakan perbuatan bid’ah hasanah sehingga akan mendapatkan pahala baik bagi yang mengadakannya ataupun yang menghadirinya.

“Barang siapa yang memuliakan hari kelahiran Rosululloh maka Allah akan memberinya syafa’at di hari kiamat. Termasuk yang memberikan infaq dalam perayaan,” pungkasnya. (Aan)